"Isolasi mandiri patut diduga menjadi penyebab kluster keluarga mendominasi kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Jatim, sehingga kasus Covid-19 terus meningkat," katanya.
Karenanya dia menyarankan supaya program percepatan vaksinasi Covid-19 di Jatim difokuskan berbasis pada keluarga bukan individu lagi. Mengingat, vaksinasi berbasis individu kurang efektif untuk menekan sebaran Covid-19.
"Semakin banyak keluarga tangguh yang terbentuk karena sudah divaksin, otomatis akan terbentuk lingkungan yang tangguh, desa tangguh dan kabupaten/kota yang tangguh hingga Indonesia tangguh dan bisa mengatasi Covid-19," ujarnya.
Kusnadi juga menyebut, banyaknya warga yang isolasi mandiri karena terpapar Covid-19 juga menjadi pemicu penulan. Hal itu terjadi ketika keluarga yang merawat belum tervaksin.
Dia mencontohkan, ketika kepala keluarga terpapar dan melakukan isolasi mandiri, maka keluarga di rumah (istri, anak atau kerabat) ikut merawat. Akibatnya, mereka ikut terpapar. Sebab, belum semua anggota keluarga tersebut tervaksin.
"Karena itu, vaksinasi berbasis keluarga ini sangat penting. Teknisnya bisa dilayani puskesmas setempat. Jadi vaksinasi baru bisa dilayani jika melibatkan seluruh keluarga bukan individu. Saya optimis PPKM Darurat tahap II hasilnya akan lebih optimal jika dibantu vaksinasi berbasis keluarga," katanya.