"Saat gerilya itu yang dikirim rata-rata dibekali, istilahnya tahan peluru, minum telur ayam, dikasih doa ditelan. Biar orang-orang yang mau berangkat untuk gerilya biasanya diangkut menuju perbatasan frontnya di daerah Porong dikirim ke sana," ucap penasihat takmir Masjid At Thohiriyah, Bungkuk.
"Dari mana-mana, dari Jember ke sana, dari Malang ke sana, Singosari. Ini tempat mengemblengnya, mengebalkan di sini. Nggak ada markas, tentara-tentara nggak ada baru berdiri Oktober, nggak ada waktu itu yang ada gerilyawan," ujarnya.
Dia mengaku masih ingat betul selain di Bungkuk, Singosari, rumah orang tuanya KH Nachrawi juga digunakan para pejuang gerilyawan berkumpul. Di sana para pejuang ini dibekali ilmu agama, peperangan dan terpenting kebal saat ditembak senjata api oleh Belanda dan sekutunya.
Bahkan KH Nachrawi turut turun langsung membekali para pejuang untuk berperang, termasuk ilmu kebal terhadap senjata.
Dia masih ingat ketika SD, samurai, pedang dan senjata tajam lainnya menjadi hal yang sering dilihat, bahkan dipegangnya. Perbekalan pertempuran itulah yang menjadikan modal gerilyawan asal Malang dan sekitarnya.