Untuk memastikan langkah yang aman, BNPB menghadirkan konsultan ahli dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Tim ITS merekomendasikan agar dibuat penahan sementara pada struktur bangunan lama guna mencegah keruntuhan tambahan saat proses cutting atau pemotongan beton dilakukan.
“Hasil asesmen ahli menyatakan perlu dibuat penahan gedung lama agar proses pembersihan bisa dilanjutkan tanpa risiko tambahan,” ucapnya.
Langkah teknis ini dinilai penting agar seluruh operasi berjalan aman bagi petugas maupun warga sekitar.
Di tengah kendala tersebut, tim SAR tetap fokus menuntaskan pembersihan di sektor selatan, tempat reruntuhan paling berat menimpa bangunan musala. Area itu menjadi prioritas karena masih berpotensi ditemukan korban.
“Tujuannya adalah memaksimalkan penemuan jenazah maupun potongan tubuh lainnya, sampai benar-benar dapat dipastikan semuanya sudah berhasil dievakuasi,” ujarnya.
Setelah pembersihan di sektor selatan selesai, barulah tim akan memotong bagian bangunan yang masih menyatu dengan struktur lama. Meski kondisi medan berat, tim SAR gabungan dari BNPB, Basarnas, TNI, Polri, BPBD dan relawan tetap bekerja 24 jam bergantian. Mereka dibekali dukungan logistik, peralatan keselamatan serta bantuan pemulihan stamina agar tetap fokus menjalankan misi kemanusiaan.
“Tim SAR gabungan yang bertugas selama 24 jam secara bergantian telah mendapatkan dukungan ketahanan fisik dan stamina selama melaksanakan misi kemanusiaan,” katanya.