MALANG, iNews.id - Angga Setiawan, menatap tajam boneka berbahan kertas bekas bungkus semen, berangka kayu dan bambu. Tangan kanannya masih memegang kuas dan sedikit belepotan dengan cat kayu warna biru muda. Sambil serius mengamati boneka yang memiliki panjang hampir dua meter tersebut, pemuda 23 tahun ini sesekali berdiskusi dengan Wahid (17), tetangganya yang turut membantu mengecat boneka kertas tersebut.
Boneka berwajah raksasa menyeramkan, dengan taring panjang, dan rambut gimbal panjang menjuntai itu, memiliki lidah menjulur panjang. Pada ujung lidah, terlihat wajah raksasa yang jauh lebih menyeramkan. “Wajah dan penampilannya memang menyeramkan. Dia sosok raksasa jahat. Bentuknya setengah manusia dan setengah hewan. Lidahnya menjulur panjang berbentuk bola api,” ujar Angga bersemangat menjelaskan, Senin (12/3/2018).
Boneka yang dibuat pemuda Dusun Jengglong, Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Jawa Timur, tersebut merupakan boneka ogoh-ogoh, yang akan digunakan untuk rangkaian menyambut perayaan Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu. Makhluk menyeramkan ini, menjadi pilihan Angga dijadikan ogoh-ogoh karena dianggap menjadi penggambaran jiwa yang buruk dan jahat. Ogoh-ogoh ini akan dibakar dalam api penyucian di malam menjelang puasa Pati Geni.
“Boneka ini memang menyeramkan, sebagai penggambaran wujud kejahatan. Tetapi, ada sifat di dalam diri manusia yang lebih buruk dari wajah raksasa ini dan sulit untuk diketahui oleh semua orang,” ungkapnya.
Melalui rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi yang diawali dengan acara Melasti, lalu pembakaran ogoh-ogoh, puasa Pati Geni, dan diakhiri dengan upacara Ngembak Geni, menurutnya manusia diajarkan untuk bisa mengendalikan sifat-sifat buruk yang ada di dalam diri sendiri.
Angga dan Wahid tidak sendiri mengerjakan ogoh-ogoh. Berderet-deret rumah yang mengisi sela-sela hijau kebun dan hutan di lereng timur Gunung Kawi tersebut juga memperlihatkan aktivitas kesibukan membuat ogoh-ogoh. Kesibukan warga desa ini selalu terjadi menjelang perayaan Nyepi. Mereka begitu rukun dalam bergotong-royong menyiapkan ogoh-ogoh. Bukan hanya warga yang beragama Hindu saja yang terlibat, tetapi warga desa yang beragama Islam, Katolik, dan Kristen Protestan turut terlibat bekerja bakti.
“Warga desa di sini selalu bergotong royong, termasuk untuk kegiatan keagamaan dari umat beragama lain. Di desa kami, ada yang memeluk Hindu, Islam, Katolik, Kristen Protestan, dan Buddha. Mereka saling bekerja sama,” ujar Kepala Desa Sukodadi, Susilo Wahyudi.
Desa berpenduduk 4.968 jiwa tersebut memiliki penduduk yang beragam agamanya. Mereka tersebar di enam dusun, yakni Dusun Petungpapak, Dusun Genderan, Dusun Kebonkutho, Dusun Ampelantuk, Dusun Jamuran, dan Dusun Jengglong. Tetapi, mereka mampu hidup rukun di desa yang sangat sejuk udaranya itu.
Kerukunan antarumat beragama ini juga tercermin dalam kehidupan setiap keluarga di desa ini. Dalam satu keluarga, ada anggota keluarga yang menganut agama berbeda-beda. Antara suami dengan istri atau anak dan menantu, agama yang dianut bisa berbeda. Namun, mereka tetap hidup rukun sebagai satu keluarga. “Seperti saya dan istri saya beragama Islam, tetapi keluarga kakek dan nenek dari istri saya penganut agama Hindu. Tetapi, kami tetap hidup rukun sebagai keluarga dan warga desa,” ujar Susilo.
Kerukunan antarumat beragama ini juga sangat dirasakan saat kegiatan membangun tempat ibadah. Seluruh warga pasti akan bergotong royong ikut membantu membangun, meskipun berbeda-beda agamanya. Demikian juga saat ada perayaan hari raya keagamaan, setiap warga akan saling berkunjung untuk mengucapkan selamat.
Sebentar lagi, warga desa yang memeluk agama Hindu akan merayakan Hari Raya Nyepi. Warga desa yang tidak beragama Hindu, turut bergotong royong menyiapkan perayaan tersebut. Seperti mereka yang turut membantu membuat ogoh-ogoh, dan ikut menjaga keamanan desa.
Susilo mengaku selalu membangun komunikasi yang baik kepada seluruh warganya, tanpa membedakan agamanya. “Kalau terdengar percikan konflik di masyarakat, saat itu juga saya akan datang untuk berupaya mendamaikan dan menyelesaikan permasalahannya agar tidak disalahgunakan oleh mereka yang tidak bertanggung jawab,” katanya.
Tidak peduli konflik itu terjadi pada tengah malam, Susilo bersama perangkat desa dan tokoh masyarakat desa, serta tokoh agama akan mendatangi lokasinya untuk segera menyelesaikan melalui jalan dialog. “Kalau kita tunda-tunda penyelesaiannya akan memicu orang lain masuk dan memperkeruh suasana,” imbuhnya.
Toleransi sudah menjadi bagian hidup dari warga yang hidup di lereng Gunung Kawi ini. Rasa saling menghormati dan menyelesaikan masalah melalui jalan dialog, tumbuh dengan penuh kesabaran dari warganya. Sejak berabad-abad silam, wilayah lereng Gunung Kawi, sudah menjadi pusat peradaban manusia. Wilayah yang penduduknya sangat toleran ini, menurut sejarawan Universitas Negeri Malang (UM), Dwi Cahyono, sudah menjadi pusat pendidikan di masa akhir Kerajaan Mataram Hindu yang berpusat di wilayah Jawa Tengah.
Hadirnya pusat-pusat kegiatan intelektualitas masyarakat kuno yang menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan mengunggulkan budi pekerti sebagai ciri masyarakat berpendidikan tersebut, dibuktikan dengan berdirinya banyak Mandala Kadewaguruan. “Mandala Kadewaguruan merupakan pondok-pondok tempat menempuh pendidikan,” ujar Dwi.
Bahkan, kehadiran intelektualitas di tengah masyarakat yang hidup di lereng-lereng Gunung Kawi pada masa itu, menurutnya, juga dibuktikan dengan mulai tumbuh suburnya penggunaan bahasa serta huruf Jawa asli, yaitu bahasa dan huruf Jawa Kawi. Sebelumnya masyarakat banyak menggunakan huruf Palawa dan bahasa Sanskerta, dari India.