Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Covid-19 Jatim dr Joni Wahyuhadi mengatakan, begitu tiba di Surabaya, mobil PCR langsung diarahkan membantu swab ke RS Unair. Kemudian sorenya ke Asrama Haji Sukolilo. “Mobil ini di Asrama Haji itu dua hari, Rabu sore sama kemarin Kamis. Di sana menyelesaikan 300 tes,” katanya.
“Di hari ketiga (29 Mei), Bu Feni (Kadinkes Surabaya), menugaskan stafnya, Ibu Deni. Tetapi bu Deni tidak memyampaikan acaranya Surabaya apa, sehingga mobil kita kirim ke Lamongan dan Tulungagung. Sebab sudah janjian,” katanya.
Selain itu, alasan menggeser ke Tulungagung menurut Joni karena berdasarkan rapat Forkopimda, Tulungagung sedang membutuhkan. Sebab, banyak Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang tidak teridentifikasi.
“Walaupun Tulungagung sudah dikirimi PCR tapi belum jalan, masih dalam optimasi. Kita kirim ke Tulungagung satu mobil sesuai hasil rapat Forkopimda biar di sana tidak menyebar karena ada klaster besar di sana, ” katanya.
Kemudian, satu mobil lagi digeser ke Lamongan yang selama ini menunggu tes PCR tahap kedua dan menunggu ruang isolasinya. “Lamongan kan tinggi. Besok Surabaya lagi, saya minta jadwalnya ke dr Feny (Kadinkes Surabaya). Mana Surabaya, akan didatangi,” katanya.
Menurut Joni, jadwal operasional mobil PCR di setiap daerah sifatnya fleksibel, sehingga begitu ada yang siap, bisa langsung digeser. “Makanya kalau ada fokus-fokus bisa didatangi. Menurut BNPB mobil itu sampai 2 Juni di sini,” katanya.
Diketahui, Wali Kota Surabaya marah karena mobil PCR dialihkan Tim Gugus Tugas Covid-19 Jatim ke Lamongan dan Tulungagung. Risma mengklaim, mobil PCR bantuan BNPB tersebut dikirim khusus untuk Kota Surabaya.