"Jika ada warga korban banjir yang sakit bisa langsung kami tangani. Untuk lokasi Posko Bencana tingkat kabupaten kami pusatkan di Kantor Kecamatan Balerejo," kata Kaji Mbing-sapaan akrabnya.
Dia mengungkapkan, banjir yang menerjang wilayah Madiun disebabkan curah hujan tinggi selama beberapa hari terakhir. Selain itu, luapan air dari Sungai Bengawan Solo juga membuat air banjir sulit keluar dan merendam permukiman warga.
Data sementara BPBD Kabupaten Madiun, di Kecamatan Madiun terdapat delapan desa yang terdampak. Yakni Desa Dampelan, Sendangrejo, Sumberejo, Tanjungrejo, Banjarsari, Tulungrejo, Nglames dan Betak. Jumlah warga terdampak mencapai 238 KK.
Kemudian di Kecamatan Saradan, banjir melanda lima desa. Meliputi Desa Klumutan, Sukorejo, Sugihwaras, Bener dan Desa Bongsopotro. Jumlah warga terdampak 100 KK. Selanjutnya di Kecamatan Pilangkenceng, banjir melanda tujuh desa. Yakni Desa Purworejo, Kedungrejo, Wonoayu, Bulu, Pulerejo, Ngengor dan Desa Kedungmaron. Jumlah warga terdampak 1.447 KK.
Kecamatan Balerejo, banjir melanda 11 desa. Meliputi Desa sogo, Warurejo, Garon, Pecinan, Jerukgulung, Glonggong, Sumber Bening, Tapelan, Babadan Lor, Kuwu dan Desa Balerejo. Jumlah warga terdampak 2.174 KK.
Kecamatan Sawahan, tidak ada korban terdampak, namun banjir merendam lahan pertanian milik warga. Kemudian di Kecamatan Mejayan, banjir melanda satu desa, yakni Desa Ngampel. Jumlah warga terdampak 72 KK.
Selanjutnya di Kecamatan Wungu, banjir melanda dua desa. Yakni Desa Tempursari dan Mojorayung dengan jumlah warga terdampak 225 KK. Dan terakhir di Kecamatan Wonoasri. Banjir melanda satu desa, yakni Desa Buduran, dengan jumlah warga terdampak 61 KK.