"Berarti penelitian geolistrik yang kita lakukan ini langsung bisa memberi manfaat bagi pemerintah dan masyarakat setempat," katanya.
Eko Wahyudi lalu mengungkapkan, selama ini, wilayah Desa Kramat yang terdiri dari tiga dusun ini memang kerap mengalami kekurangan air tawar saat memasuki musim kemarau.
Dari tiga dusun yang ada, sumber air tawar hanya ada di separuh Dusun Ngablak. Sedang sisanya, di Dusun Cekel dan Dusun Kramat, semua sumurnya mengeluarkan air asin.
"Sumur ini sengaja kita buat di halaman balai desa, agar tidak ada polemik soal kepemilikan lahan," ujarnya sambil menunjukkan lokasi sumur yang baru digali, Kamis (8/10/2020) lalu.
Bagi Eko, penelitian geolistrik yang dilakukan BPBD Jatim ini memberi referensi baru bagi desanya dalam mencari titik sumber air. "Selama ini, bahan rujukan masyarakat untuk mencari sumber air hanya melalui terawangan (pandangan gaib). Dengan adanya hasil penelitian ini, kita sekarang punya rujukan dasar ilmiah untuk menentukan kebijakan titik lokasi pembuatan sumur," katanya.
Rencananya, penelitian geolistrik yang dilakukan Tim BPBD Jatim bersama Laboratorium ITS akan berlanjut di tujuh daerah lain. "Diperkirakan, pada pertengahan November nanti penelitian di semua daerah sudah selesai," katanya.