Sejak saat itu, masyarakat dari berbagai wilayah di tanah air, termasuk wilayah yang perekonomiannya kurang berkembang mulai berdatangan ke Jakarta. Di tahun 1950-an, penduduk yang mendiami Jakarta bahkan melonjak menjadi 1,4 juta jiwa.
“Ini (urbanisasi) mungkin setelah kemerdekaan, setelah banyak orang mencari pekerjaan di kota. Mungkin tahun 60an 70an dimana Kota Jakarta mulai didatangi orang dari berbagai desa,” kata Guru Besar Fakultas llmu Budaya Universitas Airlangga Purnawan Basundoro, seperti dikutip iNews.id dari laman resmi Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Timur, Kamis (13/4/2023).
Saat pendatang tersebut telah mendapat pekerjaan di Jakarta, rasa rindu terhadap kampung halaman akan muncul. Sayangnya, jarak yang jauh dan waktu libur yang sebentar membuat mereka tak bisa terus-menerus pulang ke kampung halaman.
Karenanya, para pendatang akan memanfaatkan jatah libur lebaran untuk pulang ke kampung halaman karena terdapat libur yang cukup panjang. Fenomena ini ternyata juga mendapat dukungan dari pemerintah saat itu, di mana jalur kereta api yang dibangun oleh Belanda kembali dioperasikan.
Memasuki tahun 1980-an, opsi alat transportasi semakin beragam. Animo masyarakat terhadap mudik pun selalu meningkat setiap tahunnya.