Setelahnya, ia digandeng oleh studio film raksasa Persari untuk bermain dalam film ‘Pengorbanan’ (1952) dan ‘Lagu Kenangan’ (1953). Pamornya semakin tak terbendung setelah sukses membintangi film ‘Putri Solo’ (1953).
Meskipun kariernya sempat tersendat karena masuk dalam blacklist Persari setelah terlibat dalam pertunjukan yang disponsori produsen rokok, Titin Sumarni bisa kembali berkiprah di blantika hiburan tanah air dengan baik. Sejumlah film pun ia bintangi kembali, seperti Gadis Olahraga, Kenangan Masa, Dunia Gila, dan Sepanjang Malioboro.
Di tahun 1954, Titin Sumarni semakin melebarkan sayapnya dengan mendirikan studio film bernama Titien Sumarni Motion Pictures. Studio miliknya telah memproduksi sederet film populer, di antaranya adalah Putri dari Medan, Mertua Sinting, Tengah Malam, Sampah, dan Saidjah Putri Pantai.
Karier mentereng Titin Sumarni tersebut tak hanya didapatkan berkat kemampuan aktingnya yang mumpuni, tetapi juga karena paras cantik yang ia miliki. Dengan wajah ayu khas wanita Indonesia dan tahi lalat di atas bibir, wanita ini bahkan mendapatkan julukan sebagai Marilyn Monroe dari Indonesia.
Saat itu, semua pria termasuk Presiden Soekarno begitu mengidolakannya. Seorang sineas asal Korea Selatan bernama Huyung bahkan pernah merekomendasikan wanita tersebut untuk masuk dalam majalah ternama internasional.