“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal akibat adanya aktivitas sesar aktif bawah laut. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault),” katanya.
BMKG menegaskan, kondisi ini wajar mengingat kawasan perairan selatan Jawa Timur memang rawan aktivitas sesar aktif yang kerap memicu guncangan dengan intensitas kuat.
Guncangan gempa terasa di berbagai daerah dengan tingkat intensitas berbeda. Pulau Sapudi mengalami guncangan skala V–VI MMI, di mana seluruh warga merasakan getaran dan beberapa bangunan mengalami kerusakan ringan.
Daerah Sumenep, Pamekasan dan Surabaya merasakan skala III–IV MMI dengan getaran cukup nyata dalam rumah, mirip seperti dilalui truk besar. Adapun Tuban, Denpasar dan Gianyar juga merasakan skala III MMI.
Getaran juga terdeteksi di Tabanan, Buleleng, Kuta, dan Banyuwangi dengan skala II–III MMI. Bahkan, wilayah Lombok Utara, Mataram, Lombok Tengah, Malang, hingga Blitar turut merasakan skala II MMI, dengan getaran hanya dirasakan sebagian orang dan benda ringan yang digantung ikut bergoyang.
Menyikapi kondisi ini, BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak panik dan tetap waspada. Kepada masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
"Hindari bangunan retak atau rusak akibat gempa. Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal Anda cukup tahan gempa ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum kembali ke dalam rumah,” ucapnya.