Pengajar Psikologi di salah satu kampus di Depok, Jawa Barat, itu melanjutkan, yang namanya keyakinan tertentu, seperti melakukan ritual di pantai selatan misalnya, itu mungkin terkesan tidak masuk akal. Apalagi mereka yang melakukan tahu ada risiko hanyut terbawa ombak.
"Tapi, saat keyakinan menjadi dasar utamanya, ya, akal sehat susah ditempatkan di sana. Meskipun, keyakinan pun tetap bisa dilogikakan, karena semua pertanyaan di dunia ini sebenarnya memiliki jawaban hanya kita harus mencarinya," kata Mei.
Soal mengapa di era modern seperti ini masih ada orang yang terkungkung di tradisi masa lampau, Mei meminta kepada masyarakat untuk tidak bisa menyalahkan kelompok tertentu. "Itulah kebenaran menurutnya," ucapnya.
Melihat fenomena seperti ini, sambung Mei, ada baiknya harus dengan latar belakang yang sama, pemahaman yang sama, pendidikan yang sama, lingkungan yang sama, pun keyakinan yang sama.
"Buat saya, semua orang itu punya hak mempercayai sesuatu yang dianggapnya benar. Jadi, ada baiknya kita jangan membandingkan keyakinan kita dengan keyakinan orang lain," kata Mei.
Ia pun menyatakan, bila Anda menilai ritual di pantai selatan adalah sesuatu yang kurang pas atau perlu diluruskan, maka perlu pemuka agama yang turun tangan.
"Artinya, pemuka agama yang memahami konsep tersebut harus dilibatkan. Sebab, hanya pemuka agama yang biasanya dipercayai oleh kelompok masyarakat seperti itu," ungkap Mei.