Meski demikian, Khofifah tetap mengingatkan agar seluruh masyarakat tetap waspada terhadap ancaman penularan virus korona tersebut. Salah satunya dengan terus menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).
Dia mengimbau kepada masyarakat untuk tidak menganggap sepele jika ada anggota keluarga yang mengalami gejala layaknya mereka yang terinfeksi virus korona. Jika ada anggota keluarga yang panas tinggi, batuk, serta sesak napas, segera periksakan ke rumah sakit terdekat dan laporkan ke Dinas Kesehatan kabupaten/kota setempat.
Khofifah menambahkan, Pemprov Jatim telah melakukan serangkaian aksi pencegahan masuknya virus korona di sejumlah pintu masuk ke provinsi ini. Salah satunya memasang body thermal scanner di setiap pintu masuk kedatangan luar negeri.
Kemudian, menyiapkan tim kesehatan yang akan memeriksa kondisi fisik dari orang yang terdeteksi demam. Bagi orang yang terdeteksi demam dan batuk atau sesak akan diawasi di ruang isolasi rumah sakit. Sementara bagi orang yang tidak terdeteksi demam juga telah diberi HAC (Health Allert Cards) atau kartu kewaspadaan kesehatan.
“Pemprov Jatim menyiapkan tiga rumah sakit untuk memberikan layanan terkait ini, yaitu RS dr Soetomo Surabaya, RS dr Syaiful Anwar Malang dan RS dr Soedono Madiun,” katanya.
Diketahui, dari 238 WNI yang dibawa pulang dari Wuhan Tiongkok, sebanyak 65 diantaranya berasal dari Jatim. Adapun rinciannya, dari Sidoarjo 3 orang, Surabaya 34 orang, Tuban 1 orang, dan Banyuwangi 1 orang.
Kemudian, Bojonegoro 1 orang, Bondowoso 1 orang, Gresik 1 orang, Jember 1 orang, Kediri 4 orang, Lamongan 2 orang, Lumajang 4 orang, Malang 7 orang, Pamekasan 1 orang, Ponorogo 1 orang, dan Probolinggo 3 orang.