"Saya dengar teriakan polisi dan Brimob ‘tutup tutup’. Saya nggak tahu apa maksudnya. Ketika pintu ditutup saya melompat lewat plafon, keluar mencari jalan," katanya.
Pria yang kesahariannya bekerja sebagai tukang ojek di Wamena itu kemudian lari ke gunung menjauhi kerusuhan. Dia tak sendirian, namun bersama sekitar 200 orang lainnya yang berlari menyelamatkan diri saat terjadi konflik.
Tidak lama kemudian mereka dijemput polisi untuk turun ke Polres Jayawijaya. Sebagian lainnya ke Koramil kota setempat. "Saya tinggal di polres selama tiga hari tiga malam," ucapnya.
Saat di Polres Jayawijaya, Asyari mengaku mendapat info jika pelaku penyerangan bukan orang Wamena. Dia juga tidak mengetahui asal serangan serta siapa yang melakukannya.
"Sebetulnya hubungan kami dengan warga Wamena baik. Tidak ada masalah selama tiga tahun tinggal. Kami hidup rukun dengan warga," tuturnya.