Menurutnya, pihak TNI AU telah menerjunkan beberapa tim untuk melakukan evakuasi korban dan melakukan evakuasi pesawat, termasuk data recorder yang menjadi elemen penting pesawat terbang buatan Brazil ini.
"Tetapi evakuasi peralatan pesawat adalah tim yang berbeda, tidak bisa sembarang orang. Kami ini ada beberapa tim, tidak tahu lengkapnya berapa, tapi yang pasti ada beberapa tim setiap satu lokasi," ujarnya.
Dia menjelaskan, seharusnya pesawat terbang di ketinggian 8.000 kali. Tetapi keputusan untuk terbang rendah juga merupakan hak pilot sesuai kebutuhan di lapangan. Apalagi ada dugaan faktor cuaca buruk mempengaruhi pandangan visualisasi pilot di lokasi kejadian.
"Saya tidak bisa menjawab itu nanti dilihat di data recorder, karena praktis masuk awan itu empat - empatnya saling tidak melihat. Begitu masuk awan formasi dekat bikin manuver memisahkan diri itu sudah jelas dan dilaksanakan. Ketinggian, yang dua ditanya ketinggian normal, dua lagi nggak tahu," jelasnya.
Makanya dari data recorder tersebut dapat terbaca mengenai adanya ketinggian pesawat terakhir, titik jatuh pastinya, rekaman pilot, kondisi cuaca sekitar lokasi, termasuk apakah ada kerusakan di detik-detik terakhir sebelum terjatuh.