"Saya optimistis saja, pasti nanti ada vaksinnya. Ada pencegahannya. Jadi saya ingin tetap kerja di Korea," katanya.
Sementara itu, Kepala BP3TKI Jateng AB Rahman mengaku jumlah ini tidak ada penurunan jika dibanding dengan tahun 2019 lalu. Rahman pun mengaku heran dengan minat pekerja yang tetap tinggi meskipun virus korona merebak di Korsel.
"Ini agak menarik kalau dikaji ilmiah, harusnya itukan menurun. Tapi nyatanya enggak," katanya.
Dia menilai, warga di Jateng ini optimistis jika bekerja di Korsel bisa memperbaiki ekonomi mereka. Apalagi, gaji yang ditawarkan mencapai angka puluhan juta.
Data dari BP3TKI, setiap tahunnya Korsel membutuhkan tenaga kerja sebanyak 60.000 orang. Jumlah ini diperebutkan 14 negara, salah satunya Indonesia. Sementara Jateng menempati urutan pertama tenaga kerja yang paling banyak bekerja di Korsel.