Sejarah Tradisi Dugderan di Semarang, Perpaduan Etnis Jawa, Tionghoa dan Arab

Tim iNews.id
Tradisi Dugderan di Semarang digelar tiap menjelang Ramadan. (foto: Antoni)

Mendengar suara beduk dan meriam, masyarakat pun berkumpul di alun-alun di depan masjid Kauman, keluarlah Kanjeng Bupati dan Imam Masjid Besar memberikan sambutan dan informasi, salah satunya tentang penentuan awal bulan puasa

Prosesi tradisi Dugderan terdiri dari tiga agenda yaitu pasar (malam) Dugderan, prosesi ritual pengumuman awal puasa dan kirab budaya Warak Ngendok. Tiga agenda tersebut merupakan satu kesatuan dalam tradisi Dugderan.

Warak Ngendog menjadi ikon tradisi Dugderan Semarang sampai sekarang. Sebenarnya Warak Ngendog adalah hewan mitologi yang bentuknya merupakan perpaduan antara kambing pada bagian kaki, naga pada bagian kepala dan buraq di bagian badannya. 

Warak Ngendok berasal dari dua kata, yakni warak yang berasal dari bahasa arab “Wara'” yang berarti suci dan Ngendog artinya bertelur. Dua kata itu bisa diartikan bahwa siapa saja yang menjaga kesucian di Bulan Ramadan kelak akan mendapatkan pahala dalam momentum hari Lebaran.

Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Ramadan 2026 Lebih Berkelas, 1O1 URBAN Jakarta Thamrin Hadirkan Sultan Buffet

57 tahun lalu

Hilal Tak Terlihat di Bandung dan Seluruh Wilayah Jabar, Awal Ramadan Tunggu Sidang Isbat

57 tahun lalu

Lezatnya Berbuka Puasa dengan Ramadan Street Food di éL Hotel Bandung

57 tahun lalu

Asal Usul Wangsa Sailendra, Raja Gunung yang Menggetarkan Jawa Kuno

57 tahun lalu

Meotel Purwokerto Gelar Buka Puasa bersama 6 Tokoh Agama dan Kepercayaan

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal