Rumah Atsiri Indonesia itu berdiri di atas lima hektare lahan, yang terdiri dari 2,5 hektare untuk eduwisata dan sebagian yang lain untuk lahan tanam hasil bekerjasama dengan petani lokal, yang menanam sereh, akar wangi, palmarosa dan lainnya.
"Meskipun sulit, setidaknya kami mencoba kembali menghidupkan cita-cita itu (memiliki pabrik minyak atsiri)," katanya.
Ganjar juga mengatakan, saat bertemu dengan Duta Besar Indonesia untuk Prancis, sempat menyinggung soal minyak atsiri. Menurut Ganjar, Jateng sangat berpeluang besar untuk turut andil dalam pasar minyak atsiri di Prancis.
"Saya pernah menemani penjualan minyak atsiri, dan ternyata kami tidak bisa menjual. Penjual terbesar di Asia adalah Singapura. Tahu tanamannya dari mana? Indonesia. Mudah-mudahan pengelola bisa membuatkan narasi yang kuat untuk Rumah Atsiri ini sehingga kami bisa melakukan lompatan," kata Ganjar.
Atsiri merupakan minyak hasil penyulingan dari tanaman yang menghasilkan aroma khas. Minyak atsiri dapat ditemukan di kulit, buah, bunga, daun, getah, rimpang, akar, biji, bahkan di batang tanaman.
Berbagai jenis tanaman yang mengeluarkan aroma khas tersebut ada di Rumah Atsiri Indonesia. Terbagi dalam lima gedung, meliputi museum, greenhouse, toko, area produksi dan lobi, seluruh bangunan itu dikembangkan menjadi objek wisata unggulan di Tawangmangu dengan tetap mempertahankan keaslian bangunan.