Seperti daun jati, kersen, jarak merah, singkong, ketela, dan kamboja. Sedangkan untuk pewarnaan, juga dari pewarna alami dari bahan baku kayu secang, akar mengkudu dan kulit mahoni.
Dijelaskannya, hal yang paling sulit adalah saat mengajarkan tehnik tersebut kepada anak tuna netra. Sehingga diakui butuh bimbingan ekstra. Tehnik ecoprint sengaja dipilih, harapannya bisa menjadi bekal mereka kelak saat dewasa.
Selain mengajarkan tehnik ecoprint kepada anak disabilitas, ia juga mengajari orangtuanya dengan tehnik yang berbeda. Jika anak diajari ecoprint dengan tehnik founding, maka ibunya diajari dengan metode kukus.
"Saat para orang tua menunggu anaknya, mereka juga mendapatkan pelatihan. Harapannya semoga bermanfaat, paling tidak bisa menambah pengalaman,” ucapnya.
Bripka Puguh bersama anak-anak disabilitas memiliki punya ecoprint presisi. Artinya dipres dari segala sisi, karena proses pembuatannya dengan menekan dari semua sisi. Sementara, Yayasan Disabilitas Insan Mandiri Blora Selatan, hingga kini telah mempunyai 80 anak asuh berkebutuhan khusus.