"Jika membeli pertalite, tentu harganya jauh lebih mahal sehingga tidak sebanding dengan pemasukan selama ini," ujar dia.
Awak angkot lainnya, Cahyadi, mengakui sering kali mendapat perlakuan kurang mengenakkan saat antre membeli premium. Operator SPBU sering kali memprioritaskan pedagang eceran yang membeli dengan mobil.
Mengingat awak angkot membeli premium maksimal Rp50.000 per hari, dia berharap, mendapatkan prioritas agar setiap kali membutuhkannya bisa mendapatkan, mengingat saat sekarang juga membutuhkan bantuan agar masih bisa tetap bekerja.
"Saya lebih mengutamakan membeli premium karena harganya hanya Rp6.550 per liter, sedangkan pertalite lebih mahal karena mencapai Rp7.650 per liter, mengingat saat ini cenderung sepi penumpang," ujarnya.