Setelah lulus HIK, dia menjadi guru di Sumedang dan Bandung. Di kota ini, dia kemudian menjadi guru dan mempunyai banyak teman. Di kalangan teman-temannya, Pak Kasur dikenal sebagai sosok yang mudah bergaul dan ceria.
Bahkan, mereka memanggil temannya "Susur". Meski dipanggil sembarangan, Pak Kasur tidak marah melainkan malah tertawa terbahak-bahak. Sejak saat itu, dia mulai dipanggil "Kasur".
Kasur merupakan singkatan dari julukan "Kak Soer" yang memang biasa digunakan oleh para anggota Pramuka untuk memanggil sosok yang lebih tua seperti Guru atau Pembina. Nama itu pun lama kelamaan berubah menjadi "Kasur" dan "Pak Kasur".
Ketika tentara Jepang tiba pada 1942, dia berhenti mengajar. Hatinya tidak bisa berdamai dengan kedudukan Jepang di Indonesia saat itu. Setelah itu, dia mencari nafkah dengan berjualan berbagai kebutuhan pokok.
Pada 1946, Soer menikah dengan Sandiah yang dikenal dengan nama Bu Kasur. Pada masa revolusi fisik untuk mempertahankan kemerdekaan, Soer pun meninggalkan Bandung menuju Jakarta.