Pertama, kain putih sebelum di batik direbus terlebih dengan tujuan agar kain jadi lemas dan warna daun bisa melekat dengan baik.
“Setelah itu kain di angin- anginkan hingga kering baru daun jati maupu daun lainya diletakan di atas kain. Setelah daun jati di tata sesuai dengan kreasinya agar daun jati tidak berubah, separuh kain dilipat dan dilapisi plastik bening,” kata Hikmah Fitria Prabandari, pembuat batik daun.
Ia mengatakan, kain yang sudah diberi daun di lipat menjadi empat kemudian di gulung seperti membuat lontong. Setelah selesai di gulung baru di ikat menggunakan tali dan di rebus selama dua jam. “Setelah dua jam kain di ambil dan dibuka dari ikatan kemudian semua daun jati yang ditata dibuang,” ujarnya.
Menurutnya, agar warna alami daun tidak pudar dan luntur perlu proses penguncian dengan cara dicelup pada air yang sudah diberi cairan khusus. “Setelah itu kain di jemur di tempat yang dingin diusahakan tidak terkena sinar matahari langsung,” katanya.
Bagi para mantan pekerja migran, pembuatan batik ini bisa bersaing dengan batik lain dan mengenalkan batik Kendal. “Kalau di Pekalongan terkenal batik tulis dan batik cetak di Desa Purworejo terkenal batik alami dari daun jati,” ujar Hikmah.