Saat itu beberapa maskapai juga menerapkan kebijakan bagasi berbayar. Kondisi itu dinilai memberatkan penumpang.
Selain harga tiket, Pandu meyakini penurunan ini tidak lepas dari semakin membaiknya transportasi darat. Setidaknya sudah ada jalan tol Trans-Jawa yang dibuka.
Dia menjelaskan faktor itu memberi dampak bagi penerbangan antarkota di Pulau Jawa. “Khusus untuk penerbangan luar Jawa masih stabil, hanya yang Jawa yang cukup terpengaruh adanya tol Trans-Jawa,” ucapnya.
BACA JUGA: Miliki Runway Lebih Panjang, Bandara YIA Bisa Dongkrak Turis ke Yogya dan Jateng
Pandu tetap optimistis industri penerbangan tetap akan berkembang. Ini bisa dilihat dari tinggginya jumlah penumpang selama libur natal dan tahun baru. Apalagi banyak pihak yang ingin mengembangkan industri penerbangan.
Saat ini, Angkasa Pura sudah mengembangkan terminal penumpang dari kapasitas 1,8 juta, menjadi 25 juta penumpang per tahun untuk menangkap peluang penerbangan dari luar negeri.
Sementara di pembangunan YIA mampu menangkap peluang yang lebih besar. Bandara yang terletak di Kulonprogo ini memiliki runway yang lebih panjang dan kapasitas penumpang lebih besar. Jika tidak ada perubahan pada bulan April nanti bandara ini sudah full operational dan beberapa penerbangan di Adisutjipto mulai dipindahkan.