Menurut Tohir, saat kejadian kondisi jalan dan jembatan sepanjang 10 meter dan lebar tiga meter itu sepi karena tidak ada warga yang melintas, sehingga tidak menimbulkan korban.
Tohir mengatakan, dengan robohnya jembatan tersebut akses warga di tiga desa menjadi terganggu. “Warga terpaksa berputar melalui jalur lain yang jaraknya lebih jauh hingga tiga kilometer. Warga yang hendak melintasi akses jalan tersebut terpaksa berbalik arah,” katanya.
Selain akses jalan, ambrolnya jembatan juga bedampak pada putusnya aliran air yang menuju pondok pesantren di Pesawar Wonosobo. Akibatnya, ribuan santri kesulitan air bersih untuk aktivitas sehari-hari.