Untuk mengamankan libur Nataru, lebih dari 10.112 personel gabungan TNI dan Polri diterjunkan. Pengamanan juga diperkuat oleh Satpol PP dan instansi terkait lainnya. Para petugas disiagakan di pos terpadu, pos pelayanan, pos pengamanan, gereja, objek wisata, serta jalur-jalur yang rawan kemacetan.
“Terima kasih kepada Kapolda dan Pangdam serta seluruh stakeholder yang telah memberikan pelayanan masyarakat selama libur Nataru. Semoga Jawa Tengah tetap kondusif agar semua kegiatan berjalan lancar,” ujar Luthfi.
Meski secara umum situasi berjalan aman, terdapat satu kejadian menonjol selama libur Nataru, yakni kecelakaan lalu lintas tunggal bus Cahaya Trans di lingkar Tol Krapyak. Peristiwa yang terjadi pada Senin, 22 Desember 2025 sekitar pukul 00.30 WIB itu mengakibatkan 16 orang meninggal dunia.
Sementara itu, prediksi cuaca ekstrem dari BMKG terkait potensi hujan tinggi juga telah diantisipasi. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggerakkan sekitar 1.400 desa tanggap bencana. Warga telah dibekali pelatihan dan asesmen oleh Forkopimda kabupaten/kota untuk membentuk klaster pengungsi, klaster infrastruktur, klaster SAR, dan klaster pendukung lainnya.
“Ini kami lakukan berdasarkan pengalaman kejadian di Cilacap dan Banjarnegara. Sampai saat ini tidak ada kejadian menonjol terkait bencana longsor dan banjir. Kemarin kami juga sudah lakukan pengecekan bersama Kapolda terkait kejadian yang viral di Guci, Kabupaten Tegal, yang sekarang sudah membaik,” ucapnya.
Menkopolkam Djamari Chaniago pun mengapresiasi langkah antisipasi yang dilakukan Forkopimda Jawa Tengah. Dia menilai sinergi dan kolaborasi antarinstansi di Jawa Tengah berjalan dengan sangat baik.
Selain itu juga mengingatkan bahwa malam pergantian tahun bukanlah puncak Operasi Lilin Candi. Operasi pengamanan masih akan berlangsung hingga 5 Januari 2026. Pemerintah berharap pergerakan orang masuk Jawa Tengah saat Nataru dapat terus dikendalikan dengan aman dan kondusif hingga akhir masa liburan.