Terkait rencana penyaluran subsidi BLT bagi buruh, menurut Aulia, itu hanya sebagai gula-gula atau pemanis saja agar tidak banyak gejolak di tingkat bawah. BLT sebesar Rp150.000 yang diberikan selama empat kali, sifatnya jangka pendek.
“Padahal kenaikan BBM ini efeknya jangka panjang. Pastinya nanti akan diikuti dengan kenaikan kebutuhan pokok lainnya,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah seharusnya membatalkan kenaikan BBM, karena asumsi makro APBN ini masih bisa diakomodir APBN jika harganya 100 dolar per barel.
“Sekarang minyak dunia harganya 96 dolar per barel. Jika BBM subsidi banyak kebocoran ke orang mampu, harusnya sistem distribusinya yang diatur karena dari dulu masalah kebocoran dan kebocoran tapi tidak pernah ada solusi,” ujarnya.