Sesuai dugaan, pasukan yang dipimpin Salingsingan berhasil dilumpuhkan Pangeran Purbaya. Tetapi dengan meninggalkan luka pada lengannya. Dalam perjalanan kembali ke kerajaan, Pangeran Purbaya melihat sebuah gubuk yang berpenghuni.
Lalu ia berpikir untuk mengobati lukanya terlebih dahulu disana. "Apakah saya boleh mengobati luka saya di sini?" tanya sang pangeran yang kemudian dipersilakan Nyai Pedaringan.
Kelanjutan cerita rakyat Jawa Tengah, asal usul Pantai Widuri, Nyai Pedaringan mengambil obat-obatan yang dibutuhkan dan membantu mengobati Pangeran Purbaya. Setelah selesai, Pangeran Purbaya mengucapkan terima kasih dan meninggalkan sebuah keris pusaka yang bernama Simonglang agar dijaga dan dirawat Nyai Pedaringan.
"Terima kasih atas bantuanmu, saya tinggalkan keris pusaka ini untuk dijaga dan dirawat. Saya berharap keris pusaka ini bisa menjadi pusaka daerah ini dan hanya boleh dimiliki oleh keturunan Pedaringan,” kata Pangeran Purbaya.
Nyai Pedaringan menerima keris pusaka itu dengan senang hati, ia berjanji akan menjaga dan merawat keris Simonglang itu. "Tidak ada seorang pun yang berhak mengambil keris ini, kecuali saya Pangeran Purbaya,” ucapnya sebelum melanjutkan perjalanannya ke selatan menuju Kerajaan Mataram.