"Aneh pohonnya baru kali itu baru aku lihat, pohonnya besar-besar, kadang akarnya sampai ke atas. Kalau lihat ke arah matahari sudah nggak kelihatan. Kabut pasti, kabut mulai datang kabut itu menutupi hutan sampai mau subuh hutan tok itu. Itu (kabut) tandanya masuk di alam mereka," katanya.
Namun selama berada di alam gaib, Naam mengaku tak banyak berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata tersebut. Dia memilih untuk diam ketika berada di alam mereka.
"Karena pertama mereka itu acuh tak acuh jadi ya nggak mau komunikasi tetap diam, nggak tahu kehadiran saya. Makanya nggak interaksi," ujarnya.
Dia akhirnya bisa dievakuasi tim pencari setelah empat hari tiga malam. Saat itu Naam mengaku sempat mendengar suara tim penyelamat yang mencarinya, namun dia tak langsung mengindahkan.
Sebab dia belum mengetahui apakah itu suara orang asli atau hanya bagian dari makhluk tak kasat mata yang mewujudkan diri manusia.
"Itu masih di hutan waktu hari Rabu pagi, aku dengar suara kayak orang bicara, cuma nggak langsung minta tolong, tak lihat terus daun-daun bergerak aku diam saja. Apakah benar suara manusia baru yang kedua suara itu terdengar lagi, baru minta tolong tapi nggak ada balasan, aku diam lagi," katanya.
"Nggak lama terdengar suara yang sama seperti itu. Akhirnya minta tolong lagi saya tambahi pak. Jadi 'Tolong Pak gitu, ada jawaban terus saya disuruh naik saya naik, ketika naik lari menarik saya posisi tadi di jurang, yang nolong warga mereka," tuturnya.