Ada pakar yang menduga makanan ini mendapat pengaruh dari budaya kuliner India dan Belanda. Serabi diduga sebagai modifikasi dari apem dari India yang juga terbuat dari tepung beras dan sedikit ragi. Apem kemudian berkembang menjadi serabi yang lebih lembut karena menggunakan santan lebih banyak.
Serabi dimasak dengan menggunakan periuk tanah liat kecil dan dipanggang di atas tungku arang atau kayu api. Sedangkan serabi modern di Solo, sudah dimasak dengan menggunakan wajan kecil.
Setelah adonan dituang di wajan, kemudian ditutup menggunakan penutup dari bahan tanah liat. Adonan kemudian akan sedikit mengembang dan akhirnya matang.
Kue serabi memiliki tekstur yang empuk dan rasanya manis. Serabi biasanya dijajakan di pagi hari dan dimasak menggunakan tungku, sehingga menghasilkan rasa yang khas. Kadang telur ayam yang telah dikocok ditambahkan ke atas adonan serabi yang sedang dimasak.
Seiring dengan perkembangan zaman, banyak penjual berinovasi dengan menambahkan berbagai topping, seperti sosis, keju, maupun mayones. Serabi kini telah menjadi makanan berkelas dan sering dijadikan oleh-oleh.