2. Bandar Kabanaran
Bandar Kabanaran berada di tepi Sungai Jenes, timur Masjid Laweyan. Pembangunan bandar untuk memudahkan arus lalu lintas dagang sekaligus mendukung roda perekonomian Kerajaan Pajang. Bandar Kabanaran dikunjungi pedagang yang mendistribusikan dagangannya menggunakan perahu.
Dari Bandar Kabanaran, perahu-perahu menuju Bandar Nusupan di tepi Sungai Bengawan Solo. Setelah itu, diangkut ke Bandar Gresik yang lebih besar. Komoditas dagang yang biasa diangkut melalui Bandar Kabanaran adalah kain tenun dan kain mori. Saat ini situs Bandar Kabanaran berada di Kampung Kidul Pasar, Laweyan, Solo.
3.Masjid Laweyan
Masjid Laweyan merupakan peninggalan Kerajaan Pajang yang terletak di Laweyan, Kota Solo. Masjid didirikan tahun 1546 masehi oleh Ki Ageng Henis, patih Kerajaan Pajang pada masa pemerintahan Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir).
Bangunan awalnya untuk tempat beribadah masyarakat yang beragama Hindu dan Buddha, sehingga arsitektur bangunan didesain menyesuaikan bentuk persembahyangan Hindu-Buddha. Namun karena Ki Ageng Henis menjadi mualaf, bangunan dialih fungsikan menjadi masjid pertama dan tertua di Solo.
4. Makam Joko Tingkir (Sultan Hadiwijaya)
Makam Sultan Hadiwjaya yang merupakan raja pertama Kerajaan Pajang, berada di daerah Butuh, Gedongan, Sragen. Kompleks permakaman dikenal dengan nama makam Butuh. Lokasinya tidak banyak diketahui masyarakat umum, sehingga sedikit peziarah yang berkunjung.