“Kita harus jadi lingkungan yang positif bagi orang lain. Misal ada perubahan perilaku, dari ceria menjadi murung, harus disapa, ditanyakan, jadi ada yang menolong. Sebab jika ada seseorang sudah merasa tidak berdaya, tidak ada support sosial, itu menambah potensi,” ujarnya.
Dosen Fakultas Psikologi UKSW Salatiga Krismi Diah Ambarwati mengemukakan ada kecenderungan ketika orang melakukan aksi itu saat jauh dari lingkungan tempat tinggal asalnya.
“Yang dua ini bukan asli Semarang, kasus sebelumnya di Yogyakarta juga bukan asli (penduduk Yogyakarta). Orang-orang tersebut terpisah dari keluarga utamanya, setiap anak merasa support system itu keluarga,” kata Krismi.
“Mereka yang ngekos terpisah dari support system utamanya yakni keluarga, jadi merasa tidak ada yang mendukung ketika ada persoalan, merasa ini bukan tempat tinggalku, jadi kalau bunuh diri tidak ada beban karena bukan tempat tinggal utamanya,” ujarnya.