Berdasarkan naskah Pararaton, Dyah Pitaloka Citraresmi adalah putri Raja Sunda Lingga Buana. Karena kecantikannya, Raja Majapahit Hayamwuruk terpesona dan berniat mempersunting Dyah Pitaloka menjadi permaisuri.
Putri Sunda yang sangat cantik berusia 17 tahun itu pun berangkat ke Majapahit bersama ayah Raja Sunda Lingga Buana, beberapa prajurit, dan dayang.
Sesampainya di Majapahit, rombongan Raja Sunda Lingga Buana dan Dyah Pitaloka itu tidak diizinkan masuk ke dalam kota oleh Patih Gajah Mada.
Mereka justru dipaksa berkemah di sebuah lembah bernama Bubat. Bahkan Hayamwuruk yang ingin menemui calon permaisurinya pun dilarang oleh Gajahmada.
Pada hari nahas, datang lah Patih Gajah Mada dan pasukkannya. Mereka meminta rombongan Raja Sunda Linggabuana dan pasukkannya menyerahkan Dyah Pitaloka sebagai tanda Kerajaan Sunda takluk kepada Majapahit.
Tentu saja Raja Sunda menolak keras permintaan itu. Akhirnya peperangan tidak seimbang pun terjadi. Raja Sunda Lingga Buana dan segelintir prajuritnya tumpas di Bubat. Dyah Pitaloka pun mengakhiri hidupnya di lembah itu.