Meski penjualan turun, ujar Ian, perajin batik batik tulis di Kabupaten Subang tidak patah semangat. "Mereka membuka komunikasi dengan berbagai pihak. Kami bersyukur pengelola wisata sudah bersinergi sehingga batik tulis Subang tetap dikunjungi pelanggan," ujar Ian.
Reni Anggraeni, pelanggan mengatakan, motif batik tulis Subang memiliki ciri khas tersendiri. Untuk satu helai batik tulis khas Subang ini, perajin mematok harga mulai Rp100.000 hingga Rp200.000. "Batik di sini dibuat dengan tangan, bukan dicetak. Jadi bagus. Saya suka," kata Reni.
Kasi Pemberdayaan dan Pembiayaan UMKM Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) Subang Hari Sobari mengatakan, potensi batik tulis di Subang cukup besar. Di Kabupaten Subang terdapat tujuh kelompok perajin batik yang masih eksis sampai saat ini.
"Sebelumnya Subang memiliki 11 kelompok batik. Tetapi akibat pandemi Covid-19, tersisa tujuh kelompok batik yang masih eksis dan bertahan," kata Hari Sobari.
Pemkab Subang, ujar Hari, memiliki program untuk memperkuat UMKM batik. Termasuk bekerja sama dnegan beberapa sekolah dengan memasukkan kegiatan ekstrakurikuler membatik. "DKUPP Subang melatih dan membina kelompok batik yang ada agar lebih kreatif. Kami juga mengadakan studi banding ke lokasi sentra batik di daerah lain," ujar Hari.