"Niat Esa berangkat untuk membantu perekonomian keluarga yang serba sulit, terlebih untuk membiayai adiknya yang duduk di bangku SMP. Kami tidak menyangka Esa pulang dalam peti jenazah, setelah menunggu lebih dari dua bulan," katanya.
Hingga saat ini, keluarga tidak percaya kalau Esa meninggal karena penyakit jantung. Terlebih di bagian wajah terdapat luka lebam ketika peti jenazah dibuka dan sejumlah barang berharga miliknya tidak ditemukan.
"Kami berharap pemerintah membantu mencari kepastian meninggalnya Esa karena selama ini tidak ada riwayat penyakit jantung. Terlebih barang-barang milik almarhumah ada yang hilang seperti dua buah telepon selular," katanya.
Sementara Ketua RT setempat Komarudin, membenarkan adanya luka lebam di bagian wajah Esa, diketahui setelah pihak keluarga dan warga sekitar hendak membersihkan kembali jenazah sebelum dimakamkan.
"Saya tidak tahu kapan Esa berangkat karena saya pun baru menjabat. Saya baru tahu ketika jenazah sudah sampai di kampung kami dan hendak disemayamkan. Saya melihat ada luka lebam dibagian wajah, tapi tidak tahu penyebabnya," kata Komarudin.