“Namun tentu saja agar bisa menarik mereka kita harus berupaya selaras juga dengan perkembangan teknologi dan budaya saat ini. Modernitas itu kan tidak harus membuat sebuah tampilan tradisi selalu berada di emperan sehingga tak bisa tampil dipangung era 4.0,” ujar Wina.
Sementara itu, Direktur Program dan Pengembangan SDM Lokatmala Foundation Dika Dzikriawan mengatakan, Lokatmala Foundation memiliki perhatian besar terhadap pelestarian Mamaos Cianjuran. “Kami tentu saja sangat mengapresiasi Mamaos Cianjuran bisa tampil di panggung-panggung budaya yang terhormat, seperti saat-saat awal Mamaos Cianjuran hadir ke permukaan,” kata Dika Dzikriawan yang juga penembang Mamaos Cianjuran.
Alumni pascasarjana Universitas Gajahmada (UGM) Yogyakarta ini optimistis Mamaos Cianjuran bisa kembali eksis di tengah masyarakat. Bukan sekedar menjadi musik pengiring saat hajatan sehingga terkadang tidak menjadi pusat perhatian, tetapi benar-benar menjadi kebutuhan untuk ditampilkan di acara-acara resmi pemerintahan atau kenegaraan.
“Alhamdulilah waktu kami tampil di Gedung Merdeka bersama BPIP itu ‘sadayana nganggo rumpaka’ (semuanya menggunakan lirik) gubahan bertemakan Pancasila, patriotisme, dan nasionalisme sehingga lebih menarik dan menggugah perasaan,” kata Dika.
Diketahui, tembang Sunda atau mamos Cianjuran memukau peserta pembukaan Anugerah Ikon Prestasi Pancasila dan Insan Pancasila 2023 di Gedung Kota Bandung, Sabtu (9/9/2023) lalu. Undangan yang hadir terhipnotis oleh lantunan tembang sarat makna yang diiringi suara gamelan syahdu.