Sebagai anggota PMI, Djulaeha selalu berada dalam lingkaran peperangan bersama para pejuang lainnya di Kota Cimahi untuk melawan penjajah. Dia berada di garis belakang yang bersiap mengobati setiap tentara atau pejuang yang terluka akibat perang.
"Ketika Cimahi sedang ramai dengan pertempuran-pertempuran, Bu Julaeha itu terjun, membantu tentara dalam hal penanganan korban-korban pertempuran," ujar Machmud.
Meski berada di garis belakang untuk mengobati para pejuang, namun terkadang Djulaeha Karmita terkadang ikut mengangkat senjata terjadi. Dia selalu ikut kemana pun batalion bergerak. Bukan hanya perang di Cimahi, dirinya pun menjadi saksi ketika perang di Kabupaten Bandung dan Purwakarta meledak.
Salah satu pertempuran heroik yang diikuti dia ialah perang empat hari empat malam yang terjadi di Kota Cimahi. Pertempuran tersebut terjadi di sejumlah titik di Cimahi. Dari mulai sekitar Penjara Poncol di Kalidam dan Jalan Gatot Subroto yang dulunya dijadikan tangsi Belanda yang digawangi berbagai kompi, laskar, Badan Keamanan Rakyat (BKR) hingga Tentara Keamanan Rakyat (TKR) itu terjadi tahun 1947.
Ada sejumlah nama yang dulunya terlibat dalam peperangan melawan penjajah di Kota Cimahi. Di antaranya Kompi Daeng Muhammad Ardiwinata, Kompi Ade Arifin, Embang Ardiwidjaja, Kapten Ishak, Sukimun hingga Usman Dhomiri.