“Kiita sekarang ini masuk Ramadhan terakhir menuju 2024. Mudah mudahan Partai Golkar kembali merebut kemenangan,” tutur Kang Ace.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Cadangpinggan, Kertasemaya, Sukawinangun, Indramayu KH Abdul Syakur Yasin atau Buya Syakur mengatakan, diperlukan tafsir kekinian dalam memahami Alquran supaya umat tidak terjebak kepada pemahaman sempit dan kaku.
Para ulama dulu, kata Buya Syakur, saat menafsirkan Alquran dan menyusun fikih, belum didukung dengan science and technology.
Belum ada kemajuan ilmu pengetahuan, linguistik, morfologi, terminologi, sintaksis, ilmu sorof juga belum berkembang. "Jadi masih sangat sederhana sekali sehingga sering menimbulkan eksklusivisme,” kata Buya Syakur.
Buya Syakur menyatakan melawan radikalisme agama dan membangun cara pandang keagamaan yang toleran dan terbuka, tidak cukup dengan ceramah, BNPT, dan Densus 88.
"Tidak cukup dengan kata-kata. DPR juga berkewajiban mendorong pemerintah membuat kurikulum pendidikan agama yang lebih berpihak kepada nilai-nilai kemanusiaan universal, adil, toleran dan terbuka,” kata Buya Syakur.