"Di Jawa Barat tim ahli sudah dibentuk bersama RSHS. Laboratorium disiapkan untuk mengecek apakah ini kategori hepatitis akut dan lain sebagainya. Saya cek sudah siap, bahkan teknologi molekuler terbaru sudah dimiliki," tutur Kang Emil.
Bahkan, kata Kang Emil, Pemprov Jabar pun telah menyiapkan ruangan-ruangan di RSHS jika ditemukan suspek hepatitis akut yang umumnya menyasar bayi hingga remaja umur 16 tahun itu.
"Ruangan sudah disiapkan, jaga-jaga kalau ada di Jawa Barat. Dari catatan memang (hepatitis akut) terjadinya di usia bayi sampai 16 tahun. Namun, kita belum mengetahui alasan sasaran di usia tersebut, tapi statisik menunjukkan itu," ucapnya.
Hidup sehat, ujar Kang Emil, merupakan kunci untuk mencegah penyakit yang menular itu. Oleh karenanya, Kang Emil meminta masyarakat agar tetap mengenakan masker, menjaga jarak, mengurangi kerumunan, dan tidak tukar alat makan. "Kalau ada keluarga yang sakit jangan terlalu banyak berinteraksi," ujar Kang Emil.
Selain menyiapkan strategi penanganan hepatitis akut, Kang Emil juga memastikan bahwa penanganan Covid-19 di Jabar masih terkendali dimana tingkat keterisian tempat tidur atau BOR rumah sakit Covid-19 berada di angka 0,8 persen.
"Saya datang ke RSHS juga memastikan kondisi Covid-19. Keterisian rumah sakit di Jabar untuk Covid-19 hanya 0,8 persen. Kasus aktif tersisa 1.500 dari puncaknya ratusan ribu dan rata-rata sudah banyak yang sembuh. Terbukti seperti di RSHS, hanya tiga anak yang diawat akibat COVID-19 dan empat orang dewasa, jadi minim," tutur Gubernur Jabar.