"Saat saya temui warga yang diduga depresi ini lagi nemplok, dia buat adukan pasir dan semen sendiri. Katanya mau dibangun lagi. Kemudian orang ini saya ajak bicara pelan-pelan dan akhirnya sadar, lalu saya bujuk ke pengungsian. Dari beberapa yang depresi ini, tiga orang sudah dibawa tim dari dinas sosial, agar mendapat penanganan khusus,"tuturnya.
Seperti diketahui, bencana pergerakan tanah tersebut terjadi pada Sabtu (6/2/2021). Berdasarkan data Pemerintah Desa Pasanggrahan, jumlah rumah rusak sudah mencapai 120 rumah, yang sebelumnya 116 rumah. Dari jumlah itu, 79 rusak berat rata dengan tanah, sisanya 41 rusak ringan. Seluruh rumah yang terdampak bencana alam ini sudah dilarang untuk ditempati menyusul masih terjadinya pergerakan tanah.
"Adapun jumlah warga yang jadi korban sebanyak 532 orang dari 150 kepala keluarga. Dari jumlah itu 345 orang sudah tinggal di pengungsian. Sisanya ada yang tinggal di rumah kerabatnya. Bahkan juga ada yang bertahan di sekitar rumah mereka, dengan alasan menjaga barang-barang dan memiliki hewan ternak," ujar Yadi.
Dia menambahkan, dari 532 orang korban bencana pergerakan tanah itu juga terdapat 53 balita, 31 lansia dan 4 ibu hamil.
"Kami berharap Pemkab Purwakarta segera merelokasi warga yang jadi korban bencana pergerakan tanah ini. Berdasarkan rencana mereka akan direlokasi ke tanah milik Perhutani, yang jaraknya sekitar satu kilometer dari lokasi. Kasihan mereka apalagi tidak lama lagi menghadapi bulan puasa," tutur Yadi.
Sementara itu, berdasarkan pantauan di lapangan, saat ini di lokasi pergerakan tanah di kampung itu terdapat beberapa titik baru lokasi longsoran dan amblesan tanah. Akses jalan umum di perkampungan itu ambles tidak bisa dilalui kendaraan roda empat.
"Diperkirakan titik pergerakan tanah di kampung kami ini luasannya mencapai 5 hektare. Sementara kampung yang terdampak ini berada di RW 06, dan dua RT, yakni RT 15 dan 14," ucapnya.