Puncak acara ngertakeun bumi lamba, ujar Wiranatakusumah, digelar setiap tahun untuk menjaga tiga gunung yang dianggap keramat. Salah satunya adalah Gunung Tangkuban Perahu merupakan sisa letusan Gunung Sunda Purba.
"Dengan membacakan doa dan mantra oleh para pemuka adat dalam ritual ini ungkapan syukur kepada leluhur dan alam semesta. Semua ini dilaksanakan untuk menghormati para leluhur, memohon perlindungan dan keseimbangan alam," ujar Wiranatakusumah.
Wiranatakusumah menuturkan, ritual Bumi Lamba adalah amanat leluhur Sunda dari Prabu Jayagiri Guru Menakluhur atau Rakeyan Dharmasiksa yang ditulis dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Petagen Bumi Lamba. "Itu amanat tentang mensejahterakan bumi, alam. Kita harus merawat lingkungan dari yang terkecil dari badan kita rumah hingga alam semesta," tutur dia.
Sementara itu, Kasespim Lemdiklat Polri Irjen Pol Chryshnanda Dwilaksana mengatakan, upacara ini cara masyarakat adat dalam merawat kebhinekaan di Indonesia. Upacara ada Bumi lamba digelar untuk merawat seni, tradisi, dan adat. Ini ikon kebhinekaan, bagian dari upaya merekatkan kerukunan, untuk kemanusiaan, keteraturan sosial, dan peradaban.
"Di Sespim Polri, ada keutamaan, karena merupakan sekolah moral. Calon pemimpin atau pemimpin di masa depan basiknya moralitas, yaitu kejujuran, kebenaran, dan keadilan. Seorang pemimpin harus elesai dengan dirinya. Maka, basisnya adalah pada kesadaran. Orang yang memiliki kesadaran adalah orang-orang yang bertanggung jawab dan tentu disiplin," kata Kasespim Lemdiklat Polri.