Bambang menuturkan, aksi pengukuran tanah secara sepihak dan penggusuran paksa yang dilakukan pemerintah di Desa Sukamulya sejatinya bukan sekali dua kali terjadi. Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemkab Majalengka, dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) diketahui sudah berulang kali melakukan hal yang sama dengan melibatkan aparat gabungan TNI, Polisi, dan Satpol PP.
Ketika terjadi bentrokan antara aparat dan warga pada 17 November 2016, enam orang ditangkap dan belasan warga mengalami luka-luka. Bahkan, satu orang warga mengalami luka sobek di bagian kepala akibat pukulan benda tumpul. Tak cukup sampai di situ, aparat keamanan bergerak memasuki persawahan hingga ke permukiman penduduk untuk melakukan penyisiran. “Proses penyisiran Desa Sukamulya pada waktu itu juga disertai tindakan penembakan gas air mata ke arah warga,” ungkapnya.
Menurut Bambang, tindakan represif aparat tersebut telah menimbulkan trauma bagi warga, khususnya perempuan dan anak-anak. Bahkan, hingga sehari pascaperistiwa (18 November 2016), warga masih terkonsentrasi di Balai Desa Sukamulya dan tidak berani pulang ke rumah masing-masing. Mereka merasa ketakutan lantaran patroli yang dilakukan polisi dan TNI serta ancaman penangkapan terhadap warga.
Salah satu petani asal Desa Kertajati, Wamemeng, mengaku sudah menjual semua lahan pertanian miliknya kepada pemerintah untuk pembangunan Bandara Kertajati. Sayangnya, uang yang dia dapatkan dari hasil penjualan tanah itu ternyata tidak mencukupi buat membeli lahan baru. Akibatnya, pria itu kini terpaksa harus menyewa sawah orang lain untuk digarap.
“Saya dulu punya sawah sendiri. Luasnya 250 tumbak (lebih kurang 3.500 meter persegi). Semuanya saya jual ke bandara (PT BIJB) seharga Rp80 juta. Sekarang uangnya udah habis buat makan sehari-hari, bikin (membangun) dapur rumah, dan beli motor (untuk) anak saya,” ucapnya.
Wamemeng mengungkapkan, ketika masih memiliki sawah dulu, dia mampu memproduksi rata-rata 3 ton gabah dalam sekali panen. Kini, dengan menggarap lahan orang seluas 100 tumbak, dia hanya mendapat jatah 3 kuintal gabah per sekali panen. “Dulu, (dengan menggarap lahan sendiri) saya bisa ngidupin keluarga dan nyekolahin anak. Cuma beli motor yang enggak bisa. Sekarang, habis jual tanah, beli motor bisa, tapi hidup malah jadi susah,” katanya lirih. ***