Hery mengatakan, jembatan bambu penghubung yang dibangun terbuat dari material bambu. Hanya beberapa bagian dari jembatan diperkuat oleh besi dan sling baja.
"Jembatan ini dirawat masyarakat dari kedua wilayah, dengan komponen yang harus diganti rutin itu paling batang bambu karena rawan rusak. Perbaikan rutin jembatan kerap dilakukan masyarakat dan pemerintah desa dari kedua wilayah secara bergotong," ucapnya.
Kondisi jembatan bambu itu, ujar Camat Cisewu, cukup membahayakan warga yang menggunakannya saat melintas. Apalagi saat arus Sungai Cilaki sangat deras di musim hujan.
Warga yang melintas harus melalui kondisi kontur tanah menanjak dengan kemiringan sekitar 45 derajat, jika akan mengarah ke Cisewu seusai turun dari jembatan.
Kondisi tersebut, menguras energi warga yang melintas. "Kemiringan tanah dari jembatan ke Cisewu ini sekitar 45 derajat. Untuk orang yang belum terbiasa, kontur tanah seperti itu akan membuat lutut cidera," ujar Hery.