"Abaikan saja permintaan itu (Arteria). Sebagai kader (PDIP) kan harus mengerti nasionalisme dan Pancasila. Bung Karno menggali Pancasila salah satunya berdasarkan kontemplasi beliau di Bandung, Jawa Barat, bukan hanya Pancasila, tapi Marhaenisme, atau Marhaen, orang Sunda di Bandung," kata Ono.
Apalagi, ujar Ono, Tidak mungkin sepanjang rapat kepala kejaksaan tinggi itu berbicara menggunakan bahasa Sunda. Penggunaan bahasa daerah dalam rapat sekadar untuk mencairkan suasana dan mengakrabkan.
"Siapapun kajati-nya, saya yakni penyampaian bahasa daerah dalam momen rapat itu kan bertujuan untuk mengakrabkan. Sama seperti saya misalnya sama teman-teman di DPR bertemu konsituen didapil, pasti akan menyesuaikan, menggunakan bahasa daerah untuk mengakrabkan, tidak ada masalah," ujarnya.
Ono menuturkan, telah menyampaikan masalah ini ke DPP PDI Perjuangan agar menjadi perhatian dan yang bersangkutan meminta maaf kepada warga Jawa Barat.
"Saya sudah melaporkan kondisi ke pimpinan di DPP partai (DPP PDIP) terkait dinamika di Jawa Barat, meskipun belum tertulis," tutur Ono Surono.