Setelah direbus buah dari pohon bernama Latin Arenga Pinnata ini harus ditiriskan terbih dahulu sebelum akhirnya dibelah dan dicongkel bijinya satu persatu. Biji yang diconkel itulah yang menjadi daging buahnya dan disebut kolang kaling. Setelah itu inti biji berwarna putih itu kemudian dicuci bersih dan direndam dalam air kapur selama 2-3 hari.
"Sebelum direndam, daging buah kolang kaling harus melalui tahap pemipihan. Pemipihan atau penggeprekan bertujuan menghasilkan tekstur buah kolang kaling yang lunak. Selain itu pemipihan juga bermaksud agar air perendaman mudah masuk ke daging buah," tutur Ooy.
Proses pemipihan cukup unik, perajin menggunakan pemukul dari kayu yang besar, semacam barbel. Kolang kaling yang baru dicongkel satu persatu kemudian 'digencet'. "Kayu besar itu bertujuan agar memudahkan penekanan buah kolang-kaling menjadi pipih. Perosesnya memang menguras tenaga. Tapi ya begitu cara ngolahnya," ujar Ooy.
Ooy mengaku, dalam sehari dirinya hanya mampu mampu produksi 40 sampai 70 kilogram kolang kaling. Padahal permintaan memasuki bulan puasa ini cukup tinggi. "Satu kilogramnya dijual Rp13.000-Rp15.000. Untuk bahan bakunya alahamdulillah aman. Pohon aren yang ada di kampung kami masih cukup memenuhi permintaan pasar," ucapnya.