“Jumat malam itu badan anak saya pengap dan sesak napas. Setelah tiba di rumah sakit, kata dokter sudah tidak ada. Dokter saat itu bilang gejalanya seperti apa. Dokter bilang ini mungkin gejala penyakit difteri,” katanya.
Sulastri menuturkan, dari hasil pemeriksaan Dinas Kesehatan menyebutkan penyakit yang diderita Rafli bukan karena difteri. “Tapi, saya tidak tahu penyakit apa. Padahal, dari RSUD Bayu Asih menyebutkan gejala difteri,” tuturnya.
Sulastri mengatakan, Dinkes hanya meminta pihak keluarga untuk diperiksa dan dicek kesehatannya untuk mencari kebenaran penyakit tersebut. Dia juga mengaku khawatir tertular difteri karena penyakit itu bisa menular.
Direktur RSUD Bayu Asih dokter Agung Darwis mengatakan pihaknya belum bisa memastikan penyakit yang dialami Rafli karena virus difteri atau bukan. Sebab, harus diambil dari apus tenggorokannya. Namun, dari hasil uji klinis memang korban didiagnosa terkena difteri.
“Tapi, pihak keluarga menolak untuk diperiksa karena korban sudah meninggal. Ini (kasus difteri) merupakan alarm bagi kita di Purwakarta bahwa difteri sudah ada di masyarakat. Saya juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk imunisasi ulang di kecamatan-kecamatan yang rawan penyakit difteri,” katanya.
Dia mengungkapkan, berdasarkan data di rumah sakit korban tewas akibat difteri bertambah jadi dua orang. Satu orang meninggal di Rumah Sakit (RS) Hasan Sadikin Bandung dan satu lagi meninggal dalam perjalanan ke RSUD Bayu Asih.
Sementara itu, dua pasien difteri hingga saat ini masih menjalani pemeriksaan dan perawatan intensif di ruang isolasi Ruang Kemuning RSUD Bayu Asih Purwakarta. Kedua pasien itu merupakan anak yang berusia di bawah 10 tahun. Kondisi kedua pasien itu kini sudah berangsur-angsur membaik.