"Karena darah yang keluar terlalu banyak akhirnya tidak tertolong. Hasil visum dari kepolisian menyatakan bahwa, sudah tidak ada (Noven meninggal) saat dalam perjalanan ke rumah sakit dan pisau masih menancap di dadanya," tutur Yohanes.
Yohanes Bosko Wijanarko mengatakan, banyak sekali kejanggalan dalam proses penyelidikan kasus ini. Dari awal, keluarga percaya kepada aparat kepolisian, tapi sampai sekarang upaya pengungkapan kasus semakin tidak jelas. Tidak ada titik terang.
"Katanya untuk mengungkap kasus Noven minta bantuan dari FBI (Federal Bureau of Investigation). Terus, dari Polsek Bogor timur, semua satuan telah diturunkan, baik polsek, polres, polda jabar, maupun Mabes Polri, Gegana, dan Densus 88. Semua diungkapkan di depan saya," ucap Yohanes.
"Saya memang orang kecil dan saya bodoh. Tapi bagi saya, kasus seperti ini, saya rasa tidak mungkin harus membawa FBI. Kemudian Densus 88, Gegana. Anak saya itu hanya orang kecil, seorang siswi, bukan tokoh, negarawan, atau tokoh politik, sampai harus minta bantuan FBI, itu gak mungkin," ujarnya.
Kejanggalan lain, tutur Yohanes, banyak sekali. Seperti foto-foto di HP saya, istri, dan kakak ipar hilang. Kemudian, waktu dinyatakan bahwa pelaku ditangkap di Jawa Timur, ternyata, Yohanes ke sana tidak ada yang ditangkap.