Meski ditolak dua kali, bukan berarti hubungan kekeluargaan Bratalegawa retak. Mereka tetap saling berkomunikasi sewajarnya. Sebenarnya cikal-bakal masuknya Islam ke tanah Sunda telah ada sejak zaman Prabu Niskala Wastukancana masih menjadi raja, sebelum era Prabu Siliwangi.
Di luar keluarganya, Bratalegawa mengajak masyarakat Sunda memeluk Islam. Hal ini dilakukan tanpa kesulitan berarti, tetapi Bratalegawa tak pernah memaksa siapa pun untuk memeluk agama Islam.
Dirinya hanya memberikan alternatif bahwa ada jalan menuju kebenaran. Jika ingin meniti jalan tersebut diajaknya bersama-sama. Tapi kalau tidak mau tak masalah. Apalagi ia adalah seorang bangsawan sepupu dari Wastukancana sekaligus iparnya, penguasa Galuh sebelum disatukan oleh Prabu Siliwangi.
Puncaknya ketiga Prabu Siliwangi menikah dengan seorang perempuan yang berbeda agama. Perempuan ini beragama Islam, dan membuahkan tiga orang anak. Anak pertama bernama Cakrabuana, kedua, putri bernama Lara Santang, dan ketiga seorang laki-laki bernama Kian Santang.
Ketiga anak Prabu Siliwangi ini bahkan memilih mengikuti agama ibunya yakni agama Islam. Tetapi hal itu sama sekali tak dipermasalahkan oleh Prabu Siliwangi yang bernama asli Sri Baduga Maharaja. Sejak awal Prabu Siliwangi memang sudah ada kesadaran masing-masing bahwa memberi kebebasan kepada anak untuk menentukan agamanya sendiri.