Namun, gelar ini tidak diberikan kepada Mangkubumi Bunisora karena dia dianggap raja penyelang. Jika merujuk pada Naskah Wangsakerta, maka raja pertama yang bergelar Prabu Siliwangi adalah Niskala Wastu Kancana.
Gelar itu kemudian diwariskan hingga raja terakhir Pajajaran, Suryakancana, sebagai Prabu Siliwangi VIII. Namun masyarakat Sunda tetap memusatkan identitas Prabu Siliwangi pada Sri Baduga Maharaja.
Sejarawan mencatat, kebesaran Sri Baduga Maharaja membuat masyarakat enggan menyebut nama aslinya.
“Menurut carita puisi, kebesaran Sri Baduga Maharaja menjadikan masyarakat Sunda segan menyebut nama aslinya, maka juru pantun berinisiatif dengan memopulerkan sebutan Siliwangi sebagai sebutan sang raja,” tulis penulis buku tersebut.
Dari sinilah nama Prabu Siliwangi populer dan melekat hanya pada satu tokoh.
Sementara dalam Naskah Wangsakerta tertulis kalimat penting:
"Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dedyeka dudu ngaran swaraga nira." Artinya, hanya orang Sunda, Cirebon, dan Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi sebagai Raja Pajajaran, bukan nama aslinya.