Masa kejayaan Curug Sawer terjadi sekitar tahun 90-an sampai 2000-an. Saat itu, banyak wisatawan yang datang. Pendapatan dari tiket masuk Curug Sawer dalam sebulan lumayan besar, dengan tarif hanya Rp3.500 per orang. Namun sekarang jangankan wisatawan luar daerah, wisatawan lokal juga sudah tidak ada yangdatang.
"Makanya sekarang orang yang masuk ke Curug Sawer gak ditiket, orang bebas masuk asal menjaga kebersihan. Apalagi susah membedakan mana yang mau wisata sama warga, karena di dalam kawasan Curug Sawer juga ada permukiman empat RT," ujar pria yang biasa disapa Mono ini.
Kondisi yang membuat miris adalah akses jalan dan sarana prasarana penunjang di dalam objek wisata itu juga rusak. Seperti jalan masuk ke lokasi curug, fasilitas musala, gapura gerbang masuk, pos tiket, toilet yang nyaris ambruk, dan jembatan dari kayu hancur.
Padahal itu menjadi aset Perhutani dan selama ini tidak pernah ada perbaikan. "Kalau denger-denger mau diserahkan ke investor buat mengelola, tapi susah juga karena kawasan wisata ini bercampur dengan perkampungan," tutur Mono.
Di dalam kawasan Curug Sawer tidak hanya ada satu curug (air terjun), tapi ada beberapa dengan letak terpisah. Namun yang paling besar adalah Curug Sawer dengan ketinggian sekitar 7 meter. Kemudian ada Curug Orok, Curug Balong Dua, dan Curug Biru karena airnya berwarna biru.
"Potensi curugnya banyak, jadi sayang kalau dibiarkan terbengkalai. Semoga aja ada perhatian dari pihak terkait untuk menyelamatkan objek wisata ini, terlebih jalan ke Cililin sekarang sudah bagus, jadi gampang diakses," ucap Mono.