Kamira menyatakan, perahu kuno yang saat ini menjadi cagar budaya di Kabupaten Indramayu itu berbahan dasar kayu trembesi dan beberapa bagian terbuat dari besi.
Berdasarkan struktur dan konstruksinya, ujar Kamira, perahu tersebut tergolong ke dalam tipe lokal yang sudah dikenal luas oleh masyarakat setempat.
Dia menyebut, bahwa penggunaan galaran menjadi indikasi bahwa perahu tersebut merupakan jenis perahu angkutan, bukan perahu nelayan.
"Karena di lingkungan pesisir Indramayu perahu nelayan tidak memakai galaran, melainkan hanya memakai satu lapis papan saja," ujar Kamira.
Dapat dikatakan, tutur Kamira, perahu kuno ini bukan perahu tradisional Asia Tenggara. Namun dilihat dari struktur, konstruksi, dan cara pengerjaannya, perahu kuno itu memiliki ciri paduan antara tradisi Asia Tenggara dan China.
"Salah satunya terlihat dalam penggunaan paku besi sebagai penyambung papan dengan gading-gading. Paduan tradisi ini dikenal dengan sebutan tradisi Laut Cina Selatan," tutur dia.