Seiring perkembangannya, bangunan masjid terus mengalami perluasan. Kini, total luas bangunan masjid itu mencapai 9.360 meter persegi. Di usianya yang sudah cukup tua, Masjid Besar Ujungberung tetap berdiri kokoh dan jadi pusat kegiatan Islam, khususnya bagi masyarakat Ujungberung dan sekitarnya.
Keberadaan Masjid Besar Ujungberung sendiri juga disebut-sebut menjadi salah satu saksi terbentuknya Kota Bandung. Hal itu tampak dari keberadaan Alun-alun dan Pasar Ujungberung yang kerap menjadi pertanda sebuah pusat ibu kota.
Bahkan, pakar sejarah Bandung, Haryoto Kunto dalam bukunya 'Wajah Bandung Tempo Doloe' menyebutkan bahwa Bandung tempo dulu dikenal dengan sebutan West Oedjoebroeng. Artinya, Bandung merupakan bagian wilayah Ujungberung.
Terlepas dari cerita saksi awal mula terbentuknya Kota Bandung yang kini sudah berusia 210 tahun, sejak awal berdiri, masjid yang mulanya bernama Masjid An-Nur yang dalam bahasa Arab bermakna cahaya ini menjadi pusat perkembangan Islam di Kota Bandung.
Hal itu dibenarkan oleh Kepala Nazir Wakaf Masjid Besar Ujungberung, KH Syukriadi Sambas. Menurutnya, beragam aktivitas kegiatan Islam tumbuh pesat sejak masjid ini berdiri sejak 208 tahun silam.